Jejak-JejakBerdirinya Pondok Pesantren Thoriqul 'Ulum Mamuju Utara
Mengingat keadaan seperti yang terdapat pada latar belakang
tersebut di atas maka Kiyai Malik, S.Pd.I, Ustd. M. Mufid, Ustazah Nurjannah,
A.Ma dan beberapa tokoh masyarakat pada tahun 2007 mendirikan lembaga
pendidikan Al-Qur’an yang kemudian dikukuhkan menjadi Taman Pendidikan
Al-Qur’an Darul ‘Ulum yang berkedudukan di Masjid Al-Muhajirin Desa Tirta Buana
Kec. Dapurang Kab. Mamuju Utara.
Alhamdulillah pada
MTQ tingkat kacamatan Sarudu tahun 2008 TPA Darul ‘Ulum menjadi juara umum II.
Pada tahun 2009 meraih juaraharapan satu lomba praktek sholat berjamaah tingkat
TPA sekabupaten Mamuju Utara. Dan setiap seleksi wisuda santri TPA Nahdlatul ‘Ulama
sekecamatan Sarudu lama selalu ada santri yang masuk lima besar santri terbaik.
Thn. 2008 atas nama Wiwit Dodo Rahayu meraih Peringkat Ke II dan Elok L
Mukarramah rangking IV yang dihadiri oleh Bapak Ka. KUA Sarudu (M. Sapri, S.Ag)
, Tahun 2009 atas nama Nurul Hidayanti mendapatkan peringkat ke II dan M.
Taufiq Ahmadi mendapat Peringkat Ke III yang dihadiri oleh bapak wakil bupati
mamuju utara (Ir. H. Agus Ambo Djiwa, M.P), Tahun 2010 atas nama Ummu Sa’ad Nur
mendapat Peringkat Ke I dan Sri Risna Wati Mendapat Peringkat Ke II yang di
hadiri oleh Bapak Bupati Kabupaten Mamuju Utara (Ir. H. Abdullah Rasyid, MM).
Pada bulan Agustus
2010 bertepatan dengan bulan Romadhon 1431 H. Kiyai Malik, S.Pd.I pulang ke
kampung di Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Pada saat silaturahmi ke keidiaman
guru beliau Romo Drs. KH. Sholeh Rifa’i pengasuh dan pendiri Yayasan Pondok
Pesantren Syeh Jamaluddin Kabupaten Lamongan diberi amanat untuk kembali ke
Kabupaten Mamuju Utara dan mencari lokasi untuk mendirikan Pondok Pesantren
sebagai pusat Dakwah dan Pendidikan Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah Annahdhiyyah
serta pengkaderan Da’i-da’i Nahdlatul ‘Ulama (NU) dengan diberi modal awal Rp.
1.200.000 dan gambar rencana bangunan Pondok Pesantren. Beliau berpesan harus berdiri bangunan sebelum bulan Muharram 1432 H atau suro dalam kalender jawa dan oleh Kiyai Samsul Huda, S.Ag titip pesan kalau sudah berdiri bangunan Pondok Pesantren agar diberi nama Pondok Pesantren Thoriqul 'Ulum yang artinya jalannya ilmu dan juga tidak boleh lupa dilokasi pesantren harus di istiqomahkan untuk selalu ditempati membaca istighotsah minimal satu minggu sekali.
Oleh karena amanat dari Romo Kiyai tersebut akhirnya Kiyai Malik,
S.Pd.I kembali ke Kabupaten Mamuju Utara yang sebenarnya tidak berencana untuk
kembali disebabkan karena berbagai banyak sebab. salah satunya adalah karena
sebagai anak tunggal yang berkeinginan untuk menetap dikampung halaman untuk
merawat kedua orang tuanya yang sudah tua. Dengan membawa ridho dan do’a kedua
orang tua dan Romo Kiyai serta dukungan dari istri dan keluarga besar, bertekat
untuk merealisasikan amanat tersebut.
Pada bulan Oktober
2010 bertepatan dengan bulan syawal 1431 H. Kiyai Malik, S.Pd.I kembali ke
Mamuju Utara dan langsung menyampaikan amanat tersebut yang telah diterima
kepada ustad M. Mufid rekan seperjuangan beliau dan oleh beliau diamini. Berkat
dukungan dari ustad M. Mufid, semakin kuatlah tekat dari Kiyai Malik, S.Pd.I
untuk merealisasikan amanah dari Kiyai. Dari hasil timbang, saran dari beberapa
tokoh masyarakat Desa Tirta Buana seperti bapak Patahangi (Kepala Desa Tirta
Buana) Bapak Ahmad Kuni (Ketua Pembangunan Masjid Al-muhajirin Bapak M. Bakri,
(Imam Desa) Bapak Ja’far (Imam Masjid Jami’) Bapak Muhtadin, Bapak Hasib M (Ka.
Imfra) dll. Semua mendukung dan menyarankan untuk mendirikan pondok pesantren
di lokasi Masjid Al-Muhajirin.
Semoga lancar
BalasHapus